Mengenal Tradisi Saparan Upacara Bekakak

Jogja memiliki banyak budaya dan tradisi yang di wariskan oleh para leluhur, budaya adat ini tentunya tidak boleh hilang dari waktu ke waktu dan harus ada penerus dalam mewariskannya. Salah satu budaya yang ditinggalkan dari leluhur adalah Upacara Bekakak. Namun apa itu upacara Bekakak? upacara Bekakak disebut juga Saparan, karena upacara ini dilaksanakan pada bulan Safar. Upacara Saparan yang memiliki arti upacara selamatan, yang hanya diadakan di bulan Safar kalender Jawa.

Upacara saparan.png

Untuk rincian lengkap dari upacara Saparan Gamping, secara rincian terbagi menjadi 4 tahapan yakni sebagai berikut:
  • Sugeng Ageng
  • Midodareni Bekakak
  • Kirab
  • Penyembelihan boneka pengantin Bekakak
Tradisi ini sudah ada sejak jaman Sri Sultan Hamengkubuwono I dan masih dipertahankan hingga saat ini. Saparan Bekakak dilaksanakan di Desa Ambarketawang Gunung Gamping, Sleman. Penyelenggaraan tradisi upacara Saparan bertujuan untuk menghormati alm. Kiai Wirosuto dan juga alm. Nyai Wirosuto berserta keluarganya.

Siapa sebenarnya Kiai Wirosuto? beliau adalah salah satu abdi dalam penangsong (hamba yang memayungi) dari Sri Sultan Hamengkubuwono I. Kiai Wirosuto sendiri merupakan payung kebesaran Sri Sultan Hamengkubuwono I yang tidak ikut pindah dari Keraton lama Ambarketawang ke Keraton baru Ngayogyakarta Hadiningrat. Dimana Kiai Wirosuto, istri dan keluarganya tetap tinggal di keraton lama Ambarketawang. Itulah sekilas mengenai asal usul tradisi Saparan, yang kelak terjadinya upacara Bekakak dimulai.

Upacara Bekakak dilaksanakan tepatnya pada hari Jumat, bulan Safar antara tanggal 10 sampai dengan kalender tanggal 20. Untuk waktu acara Bekakak dilakukan pada jam 2 siang setelah sholat Dzuhur dan untuk penyembelihan boneka Bekakak dilaksanakan setelah sholat Ashar yakni jam 4 sore.

Acara Bekakak merupakan sepasang boneka pengantin yang terbuat dari tepung ketan dan gula merah. Pembuatan Bekakak memakan waktu hingga 8 jam untuk proses menjadi sebuah boneka. Saat pembuatan Bekakak, diiringi gejong lesung atau yang dikenal dengan kothekan (bunyian dari lesung) dimana memiliki irama-irama bunyi kebogiro, thong thongsot, dhentek ketut mangung dan lainnya.

Selanjutnya digunakanlah pakaian adat pengantin untuk kedua boneka Bekakak. Untuk sepasang pakaian pertama mengenakan hiasan bergaya pengantin Solo dan sepasang lagi menggunakan pengantin bergaya Yogyakarta. Nantinya pakaian adat ini akan digunakan untuk prosesi Midodareni.

Pakaian pengantin bergaya adat Solo

Untuk boneka pengantin laki-laki dihias menggunakan adat Solo, yang mana terdapat ikat kepala ahestar yang berhiasan bulu-bulu dan juga untuk leher dipasangkan kalung selendang merah, berkain bangun tulak, sabuk biru dan juga mengenakan slepe. Untuk boneka pengantin wanita bergaya adat Solo dihias menggunakan kemben berwarna biru, berkalung selendang merah dan juga sungsun. Untuk wajahnya sendiri dipaes dan diberi bunga-bunga serta mentul. Untuk bahunya diberi kelat bahu serta memakai subang.

Sedangkan untuk pakaian pengantin bergaya adat Yogyakarta

Untuk pengantin laki-laki menggunakan penutup kepala keluk merah, berkalung selendang biru dan juga sungsun, sabuk berwarna biru, slepe, kain lereng bekelat bahu. Untuk pengantin wanita dihias menggunakan kemben berwarna hijau, dengan kalung selendang berwarna biru.

Tidak hanya Bekakak saja yang dibuat, terdapat sesajen-sesajen dan juga kembar mayang (rangkaian hiasan buah dan bunga) yang nantinya akan ditempatkan di area panitia pelaksanaan yakni di rumah kepala Desa Ambarketawang. Di malam hari, di adakan beberapa pertunjukan untuk menghibur warga. Terdapat beberapa hiburan yang bisa ditonton seperti wayang kuit, reog dan uyon-uyon.

Lalu adanya doa bersama tahlilan yang dilaksanakan oleh para lelaki dewasa dari Kemusuk. Acara tersebut dimulai setelah Ba'da Magrib yang diadakan di rumah Ki Juru Permono. Kemudian dilanjutkan dengan rangkaian acara malam tirakatan (berdoa bersama) yang diikuti penduduk sekitar.

Berdasarkan urutan barisan rangkaian upacara dimulainya arakan dari rumah kepala Desa ke Balai Desa Ambarketawang, memiliki susunan acara seperti berikut:
  • Barisan dari pembawa umbul umbul
  • Barisan peleton pengawal dari daerah Gampingan
  • Sepasang boneka Bekakak yakni pengantin Joli dan Jodhang
  • Reog dari Gamping Kidul
  • Dan diikuti dengan pengiring lainnya
Setelah proses pembuatan boneka Bekakak selesai, nantinya Bekakak ini ditandu oleh arakan iringan-iringan warga dan boneka Bekakak dibawa ke dua tempat penyembelihan berbeda yakni pertama di Desa Pesanggarahan, Gunung Gamping dan yang kedua di Desa Dukuh Gamping, Kidul.

Sepasang bekakak pengantin.png

Setelah boneka sampai di masing-masing lokasi, acara selanjutnya dilanjutkan dengan penyambutan yang dipimpin dari kepala Desa masing-masing Daerah. Lalu prosesi diteruskan dengan penyembelihan boneka Bekakak. Setelah prosesi penyembelihan selesai, potongan dari boneka Bekakak dan juga isi gunungan arakan, dibagikan kepada warga sekitar dan pengunjung lokasi yang ikut di dalam prosesi acara Saparan.

Sebelum rangkaian prosesi inti dari penyembelihan Bekakak, sehari sebelumnya terdapat prosesi yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Ambarketawang. Dimana masyarakat Desa melaksanakan acara midodareni dari sepasang boneka Bekakak. Dilanjutkan dengan proses kirab (sepasang bekakak) dan sesajen yang diarak dari Desa Gunung Gamping, Kidul ke daerah Kelurahan Ambarketawang untuk diserahkan ke panitia acara kepala Desa Ambarketawang. Khususnya untuk boneka Bekakak sebelum dimulainya rangkaian acara, telah dimalamkan untuk satu semalam berlokasi di balai Desa Ambarketawang. Sebelum dilanjutkan lagi untuk acara pengarakan keesokan harinya yang diakhiri dengan proses penyembelihan boneka Bekakak.

Penyembelihan bekakak.png
Upacara Bekakak berlangsung di sekitar wilayah Jl. Wates Gamping dan Ring Road Barat Jl. Brawijaya. Saat upacara adat dimulai, banyak warga menyambut dan menyaksikan upacara Saparan penuh antusias.

Semua acara ini tentunya ditujukan kepada Kiai Wirosuto dan Nyai Wirosuto atas pengabdiannya kepada kerajaan hingga akhir hayatnya. Di mana Kiai Wirosuto berserta istri meninggal terkena musibah tanah longsor di Gunung Gamping.

Pada akhir hayatnya mengenai jasad dari Kiai Wirosuto dan istri tidak ditemukan sampai saat ini, Sri Sultan Hamengkubuwono I juga sudah mengutus untuk dilakukannya penyisiran, namun juga tidak ditemukan.
 
Terakhir diedit oleh moderator:
Atas.