• Dihimbau kepada seluruh member WARGAJOGJA.COM yang akan melakukan transaksi jual beli agar tidak transfer pembayaran sebelum bertatap muka dengan penjual, apabila terpaksa tidak bisa COD (cash on delivery) pastikan penjual telah terverifikasi kartu identitas dengan melihat dibawah username ada kotak warna biru dengan tulisan "Terverifikasi".

Share Jogja Kekurangan Anak Muda yang Jago Coding

wong jogja

Moderator
Staff Member
#1
Pertumbuhan start-up di Jogja cukup pesat. Kini sudah banyak start-up yang dirintis di Jogja. menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan start-up yang cukup pesat. Namun masih ada kendala yang dihadapi oleh para start-up ini yaitu semakin sulitnya mencari anak muda yang mempunyai kemampuan coding yang mumpuni.

General Manager PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Yogyakarta Firmansyah mengaku belakangan ini para pelaku start-up mengeluhkan makin sulit mencari anak-anak muda yang jago coding. Kalaupun ada, rata-rata mereka hanya bisa melakukan coding untuk perangkat Andorid. Padahal dalam mengembangkan sebuah start-up, ada banyak sekali bahasa pemrograman yang harus diketahui. Tidak hanya terpatok pada satu jenis "bahasa".

Meskipun banyak prodi di universitas yang mengajarkan tentang coding ini, apa yang diajarkan masih dasar dan textbook. Mahasiswa jarang diberikan materi coding yang beragam dan advance. "Belum cukup menyeluruh apa yang diajarkan di kampus. Makanya jika hanya belajar di kampus saja saat lulus belum bisa langsung masuk ke industri start-up ini," katanya.

Maka untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup, anak muda perlu berlajar di luar kampus. Kebutuhan itulah yang berusaha diwadahi oleh Jogja Digital Valley (JDV) dan Digital Lounge milik PT Telkom. Jika JDV ditujukan bagi pengembangan start-up yang sudah berdiri, Digital Lounge merupakan tempat para anak muda belajar coding untuk disiapkan menjadi para pelaku start-up. Digital Lounge ini terbuka bagi masyarakat luas, Firman juga mendorong para siswa SMP dan SMA harus sering datang dan belajar jika punya keinginan untuk masuk di dunia digital.

"Belajar tidak harus di sekolah, secara formal. Iklim kerja kita sudah banyak berubah. Di perusahaan start-up kadang bukan lulusan mana yang penting tetapi bisa coding apa saja. Di Digital Lounge misalnya akan ada mentor yang membantu proses belajar coding anak-anak muda ini," tuturnya.
Startup.jpg

Firman mengatakan Digital Lounge ini telah ada di empat kota besar yang dianggap potensial. Yakni Jogja, Bandung, Jakarta dan Makassar. Selama kurang lebih lima tahun fasilitas ini berdiri, Firman mengaku sudah terlihat ada efek yang cukup signifikan pada iklim digital di Indonesia. Hal itu juga didukung dengan adanya kompetisi seperti Hackaton untuk mendorong semangat anak muda terjun ke industri digital.

Start Up Solusi Bisnis

Firman juga menambahkan start-up di Jogja mayoritas mempunyai produk solusi untuk bisnis. Seperti misalnya enterprise resource planning (ERP) yaitu versi lain SAP yang bisa membantu pengusaha menghitung produktivitas mesin atau bahkan karyawannya. Sehingga gaji yang diberikan pun bisa disesuaikan dengan apa yang dicapai oleh karyawan. Selain itu ada pula aplikasi yang membantu kafe atau restoran untuk mencatat dan mencetak nota dan telah terintegrasi dengan sistem e-payment. Dengan aplikasi ini, pengusaha yang mempunyai beberapa cabang usaha bisa mengkalkulasi hasil harian dan memperkirakan belanja selanjutnya sehingga efektif dan efisien.

"Masih banyak yang lain seperti aplikasi yang menghubungkan peternak dengan pemodal. Namun rata-rata di Jogja orientasinya sebagai solusi bisnis, ini yang banyak berkembang," imbuhnya.
 
Terakhir diedit oleh moderator: